What’s life ? masing-masing orang pasti punya pemahaman dan cara tersendiri buat memandangnya. Beberapa yang saya suka, Efek Rumah Kaca “hidup bagai balerina, hidup terasa begitu lentur”, Naif dan Sore ze Band gak kalah “Hidup itu Indah”, Abraham Lincoln bilang “and in the end, it’s not the years in your life that count, it’s the life in your years”. Kalo kaum minoritas terpinggirkan mungkin hidup tidak lebih dari “sucks”, yang menang lotere semiliar mungkin menganggap “hidup terlalu singkat buat dinikmati”. Tapi teman saya pernah bilang kalo “hidup itu adalah film terbaik” and I like this one, play your own role, act your best, and win the Oscar, yah minimal piala Citra.
For me, menjadi aktor sukses dalam hidup bukan sekedar jadi orang paling kaya atau terkenal, lebih kepada menjalankan peran dengan baik dan penuh penghayatan serta hati. Sebagai seorang anak dari sepasang Orangtua, kakak dari adik-adik, adik dari kakak, saya pengennya bisa berperan baik minimal bagi mereka, menjalankan kewajiban, dan menjadi apa yang seharusnya. Begitupun sebagai hamba dari satu-satunya Tuhan, teman dari beberapa orang, pacar dari seorang perempuan, dan pemuda dari sebuah bangsa. Tampaknya memang tidak mudah yah? Baru tampaknya saja sudah susah, apalagi menjalankannya. Tapi setidaknya saya mungkin bisa mendapatkan penghargaan kategori “orang yang sudah berusaha semaksimal mungkin tapi belum berhasil”, dan tahu tidak? kategori ini sangat dekat dengan “orang yang merasa sudah berusaha semaksimal mungkin padahal belum melakukan apa-apa”.
Ada banyak kesulitan memang dalam hidup, siapa yang bisa memungkiri!? Dan pilihan sikap masing-masing dari kita untuk menjalani hidup ini pasti berbeda-beda, ada yang mendramatisir kayak sinetron, tiap hari nangis dan gak ada bahagia-bahagianya sama sekali, adasih kalo mau tamat, itupun karena ratingnya mulai turun atau kontrak pemainnya sudah habis, terlalu dipaksakan (maaf saya mencurahkan kebencian saya!). Dan ada beberapa orang yang memilih memutuskan hubungan dengan seluruh perkara duniawi, entah itu dengan menjadi gila atau ko’id di tiang gantungan buatan sendiri, atau cara lebih praktis dan mahal adalah dengan pakai narkoba, nah yag tadi itu namanya Drama Tragedi. Padahal kadang kala masalahnya ternyata tidaklah seberat itu. Kita bukanlah seorang kakek tua yang harus menghidupi dirinya sendiri dengan memikul keranjang sayurnya, bukan juga kan seorang nenek yang berkeliling nyari sampah buat makan, dan setidaknya mereka lebih jago dengan tidak putus asa dan lebih memilih buat jadi pengemis, yang lama-lama jadi kayak penodong, “500 atau 1000 rupiah” paksanya.
Sekedar meluruskan, tulisan ini saya buat bukan untuk menasehati, memotivasi, atau menyadarkan siapa-siapa, tulisan ini saya buat tidak lebih hanyalah untuk menemukan diri saya sendiri, memotivasi diri saya sendiri, dan menemukan sendiri kesalahan-kesalahan saya, karena saya merasa, kadang kita menemukan kemunafikan diri kita sendiri dan melihat seberapa buruknya kita dengan menuliskan apa yang kita pikirkan tentang orang lain.
Well, there’s so many genres in this world, horor, action, drama, rock, dangdut, emo, folk, jazz, blues, tapi saya cuma mau menjalani hidup ini dengan ide besar Drama Comedy, no matter how bad your problem, there’s always happiness and laugh in it, and everything gonna be alright!
Thanks pal, and see ya!

0 comments:
Post a Comment