Tim Van Damme Inspired by Tim Vand Damme

Pages

Labels

Followers

I'm curious about..

About me

My photo
insomnia transient dan hypersomnia di waktu lain

Blog

Showing posts with label about me. Show all posts
Showing posts with label about me. Show all posts

Thursday, July 1, 2010

I Betray Myself

0 comments
Filosofi sederhana saya sekurang2nya brbunyi begini: setiap orang adalah pelayan setidaknya buat dirinya sendiri. Abstrak ya? Kalo eksplisit sih namanya bukan filosofi lagi, tapi blak-blakansofi. 

Nah, Sudah jadi kewajiban, seorang pelayan mematuhi kontraknya buat melayani keinginan tuannya, dan kalo si pelayan atau bawahan ini tidak menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya, maka, sebut saja ia sebagai pengkhianat, ok..sepakat! Dan pengkhianat, saudara-saudara, sungguh sangat merugikan.

Dan disitulah masalahnya kawan-kawanku sekalian, ga' semua pengabdi di dunia ini setia seratus persen, atau katakanlah ketidaksetiaan mereka seratus persen. Contohnya banyak di negeri tercinta kita ini, dan ga' perlu pintar untuk tahu kalo banyak pejabat negeri ini telah mengkhianati sumpah dan kepercayaan rakyat yang memilihnya. Jangankan pejabat mengkhianati rakyat biasa, sesama rakyat biasa aja saling berkhianat, yang kayak gini banyak terjadi kalo kita mau ngurus administrasi, kayak legalisir ijazah, bikin KTP, SIM, dll. Buat legalisir ijazah misalnya, kalo ga' salah ingat, teman saya dlu harus bayar 5000 perak untuk setiap lembar yang distempel, katanya duitnya buat penyediaan stempel lagi dan uang capek si tukang stempel, lha..saya heran, bukannya itu sudah ada dalam anggaran sekolah dan si tukangnya mmg digaji buat itu?, dan semua orang juga pasti tahu, ga' perlu jutaan perangkat stempel buat menstempel jutaan lembar kertas, cukup tintanya aja yg diganti, dn itupun harganya ga' seberapa. Tentang sesama rakyat biasa ini, saya juga punya cerita lain. Waktu itu, pagi, hujn baru aja reda setelah semalaman, saya dalam perjalanan menuju kampus, tau2 di tengah jalan (ya, di tengahnya jalan, tempat kendaraan lalu-lalang) ada tukang becak pingsan dn mulutnya berbusa, kata tukang becak lain yg kbetulan jg ada di TKP bilang kalau rekannya itu kena ayan karena kedinginan, herannya, mrka cuma bilang, "awaski', jangki dekati, bahaya itu!", lha..saya miris, niatnya saya pengen kasih saran, kenapa tidak begitu, kita pindahkan saja ke trotoar jalan biar ga' mengganggu lalu lintas dan jangan sampai dia keinjak mobil, tapi saya takut dibilang sok baik dan kepahlawanan, maka saya bungkam mulut saya dan pergi seiring bubarnya para penonton korban ayan tersebut. Waktu itu, saya merasa rasa kemanusiaan orang2 yg brada di sana, trmsuk saya, berada pada titik terendah yang pernah dicapai manusia, dan saya sadar, telah mengkhianati diri saya sebagai manusia. Yup..sebetulnya sejak awal, catatan ini bukan tentang orang lain yang mengkhianati orang lainnya, tapi tentang kita yang sering mengkhianati diri kita sendiri, tentang betapa saya sadar, betapa seringnya saya mengkhianati diri saya sendiri. Karena seperti kata teman saya, Me Vs Myself, is A Never Ending Battle.

Ada banyak kesempatan dimana saya bertekad untuk bekerja lebih keras, tapi tubuh ini malah berkhianat dengan segala kelemahan dan kemalasannya. Sudah berulang kali hati ini berkomitmen buat tetap teguh berada di jalan yang lurus, tapi si otak selalu bisa menemukan rasionalisasi buat menunda perubahan itu. Berulang kali juga saya sepakat sama si otak, "pokoknya, kamu akan lebih banyak menyimpan ilmu yang berguna", tapi gejolak darah muda ini terlalu panas buat diimbangi dengan sikap sok cool dan pintar. Mata ini kadang ga' sejalan dengan iman dan ajaran pak ustads, mulut ini ga' sejalan dengan ajaran orang tua waktu kecil, kaki ini ga' searah dengan yang diniatkan dari rumah, and, there's so many more times, I..Betray, myself. Yah, saya belum melayani diri saya dengan baik, dan, saya tidak puas dengan itu!

Well, see ya again folks, have a nice serve, and don't be too betraying!
Read more

Setidaknya Saya Punya Ini

0 comments
Pagi yang tenang, dan sedikit mendung, sedikit mengalihkan saya dari semua beban pikiran. Kebetulan hari ini ga' ada kuliah, jadi saya sempatkan refreshing sambil membaca-baca semua catatan yg telah saya posting di facebook, semuanya berjumlah 40-an, tapi ada beberapa juga yang saya hapus, karena alasan kurang srek di hati saya. Yah, sesekali saya tersenyum, puas melihat apa yang sudah saya buat, dan sesekali karena mendapati beberapa kekonyolan, kebodohan, dan kesalahan di dalamnya, tapi secara keseluruhan saya bangga, mengingat saya bisa melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain, biarpun menurut saya sebenarnya tulisan2 itu biasa-biasa saja, daripada tidak melakukan apa2 sama sekali, atau mending tidak berbuat apa2 saja ya? Haha.. Setiap orang punya pilihan. Mungkin apa yang saya buat itu tidak sempurna di mata orang lain, tapi setidaknya sempurna menurut standar saya.

Sebenarnya saya pengen mengisi waktu luang dengan jadi model majalah, tapi ternyata saya tidak punya cukup tampang buat itu, saya juga mau suara saya bisa didengar di seantero kota, tapi ternyata saya bukan penyiar radio, pengen juga jadi juragan tokek, tapi kayaknya kurang realistis dan lebih banyak bohongnya, maka waktu The Bee Gees bilang "it's only words, the words are all i have..", saya sepakat2 saja, karena sepertinya cuma itu sesuatu yang saya punya yang tidak akan ada habisnya, paling tidak selama otak dan mulut saya masih bisa bekerja dan bekerjasama dengan baik. And so, i use my words. Dengan bantuan jempol dan HP online-ketinggalan-zaman saya, maka menyebarlah kata-kata saya itu dalam bentuk tulisan dalam aplikasi catatan facebook dan blog saya, mau sebanyak apapun kata yang saya gunakan saya tidak perlu takut akan kehabisan kata-kata, maka saya akan kurang setuju jika ada orang yang mengaku bahwa ia "kehabisan kata-kata", karena sebenarnya cuma otaknya yang mampet, dan bahkan penulis handal pun pasti pernah mengalaminya.

Well, read your words soon guys, and have a nice words! Bye!


Adds: pukul sebelas lewat, masih terdengar kicau burung, Wonderfull!
Read more

Monday, March 22, 2010

Kenapa Laskar Pelangi Ga' Manjur Buat Saya!

0 comments
Katanya tidak ada yang gratis di dunia, maka untuk setiap apa yang kita inginkan butuh sebuah harga. saya cuma tidak mau mendapatkan sesuatu yang biasa-biasa saja atau malah cetek, dengan sebuah harga yang mahal, termasuk prestasi dangkal dengan harga bertahun-tahun sekolah.


Belum lama ini, saya sedang tertarik untuk membahas atau mencari segala sesuatu yang bisa menjadi pendukung dalam usaha saya membangun motivasi, tapi kali ini saya tidak terlalu tertarik dengan buku-buku pembangkit semangat atau yang semacamnya, laskar pelangi dan beberapa buku lain yang katanya sangat menginspirasi nyatanya cuma jadi sekedar bahan bacaan, kalaupun memang ada efeknya, paling lama bertahan cuma sampai seminggu, itu yang saya alami. Cuma mau coba-coba dengan sesuatu yang lebih realisitis aja, lebih dekat, dan lebih akrab dengan kehidupan sendiri, maka saya mulai dari orang-orang terdekat.


Bukannya saya menganggap buku-buku motivasi itu ga' ada gunanya atau sekedar bohongan, sebenarnya cukup bermanfaat juga kok, minimal bisa jadi media penambah pengetahuan dan hiburan. Jujur, yang saya lihat dari buku semacam itu cuma gambaran bagaimana seseorang yang mau berubah harus berusaha dengan keras, dan pada akhirnyaTuhan memang berpihak pada orang yang mau berusaha, cuma sebatas itu, sebatas tahu "oh..kalau mau menjadi lebih baik kita harus berusaha dengan keras, dan bagaimanapun tidak mungkinnya sebuah cita-cita, kita pasti bisa meraihnya". Kalau saya menganggapnya, buku-buku itu cuma sebagai pengingat, bukan sebagai sumber motivasi,soalnya yang saya tau motivasi lahir dari dalam diri kita sendiri, setelah kita benar-benar sadar untuk bertindak, tapi sekedar sadar juga ga' cukup, kita sadar kalau mau sukses harus giat berusaha, tapi sadar belum berarti kita telah berusaha.


Teman saya bilangnya gini, "itu penulis buku motivasi juga sadar bukan ji karena buku, dia sadar sendiriji, trus na bikin mi buku". Yup, kadang kita memang terlalu naif dengan berpikir kita harus memperbaiki diri kita dengan membaca sebuah bacaan yang menginspirasi, padahal pengalam dan kegagalan dalam hidup kita sudah lebih dari cukup sebagai bahan referensi. Andrea Hirata juga bisa meraih cita-citanya kuliah di Sorbonne bukan karena membaca buku-buku motivasi, tapi karena pengalam hidup dan kesadaran untuk memajukan kaumnya.


Saya pernah baca sebuah artikel, isinya tentang hal-hal apa atau siapa saja yang paling bisa mempengaruhi seseorang, dan hasilnya, orang terdekatlah yang berada di urutan teratas, iklan dan buku ada di urutan kesekian. dan setelah saya pikir-pikir, hal ini ada benarnya juga, dan ternyata tanpa saya sadari saya telah mengalaminya. Dari seorang teman terdekat saya, saya belajar untuk tidak terlalu memikirkan tanggapan orang tentang kita, jadilah seperti apa yang kamu mau, dan kadang seorang lelaki harus punya sedikit sikap memberontak (cool!..), dan satu hal yang bisa saya sarankan pada orang ini, kentutlah pada tempatnya! Dari teman yang lain, saya mendapatkan keberanian, dengan meniru apa yang dilakukannya, untuk menyebarluaskan tulisan-tulisan yang selama ini cuma tersimpan dalam otak saya, minimal melalui jejaring sosial, hal ini bukan saya dapatkan dari dari pelatihan atau seminar-seminar. Dan saya belajar bahwa kita harus mencoba segala kesempatan yang ada, cukup mencoba, hasil akhir itu ditentukan oleh usaha kita, toh kita ga' akan rugi apapun, itu saya pelajari dari teman saya yang lain. Dan layaknya anak sekolahan, yang kewajibannya memang belajar, kadang pelajaran itu tidak dapat saya amalkan sepenuhnya, pengaplikasiannya itu juga masih butuh pembelajaran. Pada segmen ini, saya tidak belajar dari buku, dan pelajaran itu tidak mereka turunkan dengan sengaja dan dengan gaya menggurui, mereka cuma berlaku sesuai apa adanya mereka. Entah bagaimana penjelasannya, tapi yang saya tahu kita cenderung mengikuti orang yang terdekat dengan kita.


Akhir-akhir ini, tugas-tugas kuliah sedang menumpuk (kayaknya memang selalu begitu), ditambah lagi berlembar-lembar laporan praktikum yang harus ditulis tangan, ya..ditulis tangan saudara-saudara! yang maksudnya, ditulis dengan menggunakan pulpen yang digerakkan dengan tangan (saya kira kalian cukup pintar untuk memahaminya). Seseorang yang dekat "dihati" saya, telah mengajarkan, semua tugas-tugas itu memang layak mengurangi sedikit-banyak dari waktu tidur saya, dan sebagi seseorang yang sedang sadar untuk mau berubah menjadi lebih baik, tak ada pilihan lain selain melakukannya. Sekali lagi hal itu saya pelajari tanpa perlu diajari.


Dan entah sejak kapan, saya mulai terbangun dengan kalimat "when we wake up in the morning, we always have two simple choices, go back sleep and dreams, or wake up and chase those dreams".


dedicated to all my friend in Kongsi Orang-Orang Belum Sukses!
Read more

Sunday, February 21, 2010

Merasa Sangat Bermasalah? Tonton Lagi!

0 comments
Kalo merasa senang melihat orang lain susah dianggap jahat, oke anggap saja saya begitu!

Yang namanya hidup ga' jauh-jauh dari yang namanya masalah, cobaan, ujian, ulangan, kuis, atau apalah semacamnya, tetanggan dekat gitu. Nah kalo tetangga itu datang bertamu, ujung-ujungnya kita kerepotan dan bingung, mau menyuguhkan apa? Mau disikapi bagaimana? Diterima baik-baik trus diajak kompromi? Atau kita tinggalin aja dia, masalahnya do'i ga' bakalan pergi sebelum urusannya sama kita kelar. Well, itu pilihan kita!

Berat memang memikul sebuah tanggung jawab, yang kadang dikonotasikan sebagai sebuah masalah, tapi kalo kita mau sedikit berpikir kontemplatif, maka kita akan sampai pada jalan yang membawa kita pada kesimpulan "Tuhan sedang menguji cinta kita, apakah kita tetap ingat sama Dia" supaya kita juga bisa lebih dicintai. Kayaknya berat memang agar kita bisa dicintai!

But if you think you had trouble enough, watch again! Kalo lagi pusing mikirin masalah, hal yang dapat membangkitkan semangat saya justru dengan melihat orang lain yang kesusahan, kan banyak tuh di tivi, di reality-reality show, berita-berita, tentang orang yang saking melaratnya celananya sampai melorot karena kurang makan, rumahnya digusur, mulung kiri kanan buat nyari makan, dan ga' mengenal peluang hidup yang lebih baik melalui pendidikan. Saya senang dan bersyukur melihat orang lain lebih susah daripada saya, setidaknya masalah saya ga' seberat mereka. Tapi saya juga merasa bahagia kalo melihat mereka bisa merasakan sedikit kebahagiaan melalui bantuan orang lain.

Kalo merasa senang melihat orang lain bahagia dianggap baik, tolonglah anggap saya begitu!

February 22th, saya sedang ada tamu.
Thank's guys!
Read more

Wednesday, February 17, 2010

Drama Comedy Life

0 comments
What’s life ? masing-masing orang pasti punya pemahaman dan cara tersendiri buat memandangnya. Beberapa yang saya suka, Efek Rumah Kaca “hidup bagai balerina, hidup terasa begitu lentur”, Naif dan Sore ze Band gak kalah “Hidup itu Indah”, Abraham Lincoln bilang “and in the end, it’s not the years in your life that count, it’s the life in your years”. Kalo kaum minoritas terpinggirkan mungkin hidup tidak lebih dari “sucks”, yang menang lotere semiliar mungkin menganggap “hidup terlalu singkat buat dinikmati”. Tapi teman saya pernah bilang kalo “hidup itu adalah film terbaik” and I like this one, play your own role, act your best, and win the Oscar, yah minimal piala Citra.

For me, menjadi aktor sukses dalam hidup bukan sekedar jadi orang paling kaya atau terkenal, lebih kepada menjalankan peran dengan baik dan penuh penghayatan serta hati. Sebagai seorang anak dari sepasang Orangtua, kakak dari adik-adik, adik dari kakak, saya pengennya bisa berperan baik minimal bagi mereka, menjalankan kewajiban, dan menjadi apa yang seharusnya. Begitupun sebagai hamba dari satu-satunya Tuhan, teman dari beberapa orang, pacar dari seorang perempuan, dan pemuda dari sebuah bangsa. Tampaknya memang tidak mudah yah? Baru tampaknya saja sudah susah, apalagi menjalankannya. Tapi setidaknya saya mungkin bisa mendapatkan penghargaan kategori “orang yang sudah berusaha semaksimal mungkin tapi belum berhasil”, dan tahu tidak? kategori ini sangat dekat dengan “orang yang merasa sudah berusaha semaksimal mungkin padahal belum melakukan apa-apa”.
Ada banyak kesulitan memang dalam hidup, siapa yang bisa memungkiri!? Dan pilihan sikap masing-masing dari kita untuk menjalani hidup ini pasti berbeda-beda, ada yang mendramatisir kayak sinetron, tiap hari nangis dan gak ada bahagia-bahagianya sama sekali, adasih kalo mau tamat, itupun karena ratingnya mulai turun atau kontrak pemainnya sudah habis, terlalu dipaksakan (maaf saya mencurahkan kebencian saya!). Dan ada beberapa orang yang memilih memutuskan hubungan dengan seluruh perkara duniawi, entah itu dengan menjadi gila atau ko’id di tiang gantungan buatan sendiri, atau cara lebih praktis dan mahal adalah dengan pakai narkoba, nah yag tadi itu namanya Drama Tragedi. Padahal kadang kala masalahnya ternyata tidaklah seberat itu. Kita bukanlah seorang kakek tua yang harus menghidupi dirinya sendiri dengan memikul keranjang sayurnya, bukan juga kan seorang nenek yang berkeliling nyari sampah buat makan, dan setidaknya mereka lebih jago dengan tidak putus asa dan lebih memilih buat jadi pengemis, yang lama-lama jadi kayak penodong, “500 atau 1000 rupiah” paksanya.

Sekedar meluruskan, tulisan ini saya buat bukan untuk menasehati, memotivasi, atau menyadarkan siapa-siapa, tulisan ini saya buat tidak lebih hanyalah untuk menemukan diri saya sendiri, memotivasi diri saya sendiri, dan menemukan sendiri kesalahan-kesalahan saya, karena saya merasa, kadang kita menemukan kemunafikan diri kita sendiri dan melihat seberapa buruknya kita dengan menuliskan apa yang kita pikirkan tentang orang lain.

Well, there’s so many genres in this world, horor, action, drama, rock, dangdut, emo, folk, jazz, blues, tapi saya cuma mau menjalani hidup ini dengan ide besar Drama Comedy, no matter how bad your problem, there’s always happiness and laugh in it, and everything gonna be alright!

Thanks pal, and see ya!
Read more

Freedomwords Design by Insight © 2009