Filosofi sederhana saya sekurang2nya brbunyi begini: setiap orang adalah pelayan setidaknya buat dirinya sendiri. Abstrak ya? Kalo eksplisit sih namanya bukan filosofi lagi, tapi blak-blakansofi.
Nah, Sudah jadi kewajiban, seorang pelayan mematuhi kontraknya buat melayani keinginan tuannya, dan kalo si pelayan atau bawahan ini tidak menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya, maka, sebut saja ia sebagai pengkhianat, ok..sepakat! Dan pengkhianat, saudara-saudara, sungguh sangat merugikan.
Dan disitulah masalahnya kawan-kawanku sekalian, ga' semua pengabdi di dunia ini setia seratus persen, atau katakanlah ketidaksetiaan mereka seratus persen. Contohnya banyak di negeri tercinta kita ini, dan ga' perlu pintar untuk tahu kalo banyak pejabat negeri ini telah mengkhianati sumpah dan kepercayaan rakyat yang memilihnya. Jangankan pejabat mengkhianati rakyat biasa, sesama rakyat biasa aja saling berkhianat, yang kayak gini banyak terjadi kalo kita mau ngurus administrasi, kayak legalisir ijazah, bikin KTP, SIM, dll. Buat legalisir ijazah misalnya, kalo ga' salah ingat, teman saya dlu harus bayar 5000 perak untuk setiap lembar yang distempel, katanya duitnya buat penyediaan stempel lagi dan uang capek si tukang stempel, lha..saya heran, bukannya itu sudah ada dalam anggaran sekolah dan si tukangnya mmg digaji buat itu?, dan semua orang juga pasti tahu, ga' perlu jutaan perangkat stempel buat menstempel jutaan lembar kertas, cukup tintanya aja yg diganti, dn itupun harganya ga' seberapa. Tentang sesama rakyat biasa ini, saya juga punya cerita lain. Waktu itu, pagi, hujn baru aja reda setelah semalaman, saya dalam perjalanan menuju kampus, tau2 di tengah jalan (ya, di tengahnya jalan, tempat kendaraan lalu-lalang) ada tukang becak pingsan dn mulutnya berbusa, kata tukang becak lain yg kbetulan jg ada di TKP bilang kalau rekannya itu kena ayan karena kedinginan, herannya, mrka cuma bilang, "awaski', jangki dekati, bahaya itu!", lha..saya miris, niatnya saya pengen kasih saran, kenapa tidak begitu, kita pindahkan saja ke trotoar jalan biar ga' mengganggu lalu lintas dan jangan sampai dia keinjak mobil, tapi saya takut dibilang sok baik dan kepahlawanan, maka saya bungkam mulut saya dan pergi seiring bubarnya para penonton korban ayan tersebut. Waktu itu, saya merasa rasa kemanusiaan orang2 yg brada di sana, trmsuk saya, berada pada titik terendah yang pernah dicapai manusia, dan saya sadar, telah mengkhianati diri saya sebagai manusia. Yup..sebetulnya sejak awal, catatan ini bukan tentang orang lain yang mengkhianati orang lainnya, tapi tentang kita yang sering mengkhianati diri kita sendiri, tentang betapa saya sadar, betapa seringnya saya mengkhianati diri saya sendiri. Karena seperti kata teman saya, Me Vs Myself, is A Never Ending Battle.
Ada banyak kesempatan dimana saya bertekad untuk bekerja lebih keras, tapi tubuh ini malah berkhianat dengan segala kelemahan dan kemalasannya. Sudah berulang kali hati ini berkomitmen buat tetap teguh berada di jalan yang lurus, tapi si otak selalu bisa menemukan rasionalisasi buat menunda perubahan itu. Berulang kali juga saya sepakat sama si otak, "pokoknya, kamu akan lebih banyak menyimpan ilmu yang berguna", tapi gejolak darah muda ini terlalu panas buat diimbangi dengan sikap sok cool dan pintar. Mata ini kadang ga' sejalan dengan iman dan ajaran pak ustads, mulut ini ga' sejalan dengan ajaran orang tua waktu kecil, kaki ini ga' searah dengan yang diniatkan dari rumah, and, there's so many more times, I..Betray, myself. Yah, saya belum melayani diri saya dengan baik, dan, saya tidak puas dengan itu!
Well, see ya again folks, have a nice serve, and don't be too betraying!

0 comments:
Post a Comment