Katanya tidak ada yang gratis di dunia, maka untuk setiap apa yang kita inginkan butuh sebuah harga. saya cuma tidak mau mendapatkan sesuatu yang biasa-biasa saja atau malah cetek, dengan sebuah harga yang mahal, termasuk prestasi dangkal dengan harga bertahun-tahun sekolah.
Belum lama ini, saya sedang tertarik untuk membahas atau mencari segala sesuatu yang bisa menjadi pendukung dalam usaha saya membangun motivasi, tapi kali ini saya tidak terlalu tertarik dengan buku-buku pembangkit semangat atau yang semacamnya, laskar pelangi dan beberapa buku lain yang katanya sangat menginspirasi nyatanya cuma jadi sekedar bahan bacaan, kalaupun memang ada efeknya, paling lama bertahan cuma sampai seminggu, itu yang saya alami. Cuma mau coba-coba dengan sesuatu yang lebih realisitis aja, lebih dekat, dan lebih akrab dengan kehidupan sendiri, maka saya mulai dari orang-orang terdekat.
Bukannya saya menganggap buku-buku motivasi itu ga' ada gunanya atau sekedar bohongan, sebenarnya cukup bermanfaat juga kok, minimal bisa jadi media penambah pengetahuan dan hiburan. Jujur, yang saya lihat dari buku semacam itu cuma gambaran bagaimana seseorang yang mau berubah harus berusaha dengan keras, dan pada akhirnyaTuhan memang berpihak pada orang yang mau berusaha, cuma sebatas itu, sebatas tahu "oh..kalau mau menjadi lebih baik kita harus berusaha dengan keras, dan bagaimanapun tidak mungkinnya sebuah cita-cita, kita pasti bisa meraihnya". Kalau saya menganggapnya, buku-buku itu cuma sebagai pengingat, bukan sebagai sumber motivasi,soalnya yang saya tau motivasi lahir dari dalam diri kita sendiri, setelah kita benar-benar sadar untuk bertindak, tapi sekedar sadar juga ga' cukup, kita sadar kalau mau sukses harus giat berusaha, tapi sadar belum berarti kita telah berusaha.
Teman saya bilangnya gini, "itu penulis buku motivasi juga sadar bukan ji karena buku, dia sadar sendiriji, trus na bikin mi buku". Yup, kadang kita memang terlalu naif dengan berpikir kita harus memperbaiki diri kita dengan membaca sebuah bacaan yang menginspirasi, padahal pengalam dan kegagalan dalam hidup kita sudah lebih dari cukup sebagai bahan referensi. Andrea Hirata juga bisa meraih cita-citanya kuliah di Sorbonne bukan karena membaca buku-buku motivasi, tapi karena pengalam hidup dan kesadaran untuk memajukan kaumnya.
Saya pernah baca sebuah artikel, isinya tentang hal-hal apa atau siapa saja yang paling bisa mempengaruhi seseorang, dan hasilnya, orang terdekatlah yang berada di urutan teratas, iklan dan buku ada di urutan kesekian. dan setelah saya pikir-pikir, hal ini ada benarnya juga, dan ternyata tanpa saya sadari saya telah mengalaminya. Dari seorang teman terdekat saya, saya belajar untuk tidak terlalu memikirkan tanggapan orang tentang kita, jadilah seperti apa yang kamu mau, dan kadang seorang lelaki harus punya sedikit sikap memberontak (cool!..), dan satu hal yang bisa saya sarankan pada orang ini, kentutlah pada tempatnya! Dari teman yang lain, saya mendapatkan keberanian, dengan meniru apa yang dilakukannya, untuk menyebarluaskan tulisan-tulisan yang selama ini cuma tersimpan dalam otak saya, minimal melalui jejaring sosial, hal ini bukan saya dapatkan dari dari pelatihan atau seminar-seminar. Dan saya belajar bahwa kita harus mencoba segala kesempatan yang ada, cukup mencoba, hasil akhir itu ditentukan oleh usaha kita, toh kita ga' akan rugi apapun, itu saya pelajari dari teman saya yang lain. Dan layaknya anak sekolahan, yang kewajibannya memang belajar, kadang pelajaran itu tidak dapat saya amalkan sepenuhnya, pengaplikasiannya itu juga masih butuh pembelajaran. Pada segmen ini, saya tidak belajar dari buku, dan pelajaran itu tidak mereka turunkan dengan sengaja dan dengan gaya menggurui, mereka cuma berlaku sesuai apa adanya mereka. Entah bagaimana penjelasannya, tapi yang saya tahu kita cenderung mengikuti orang yang terdekat dengan kita.
Akhir-akhir ini, tugas-tugas kuliah sedang menumpuk (kayaknya memang selalu begitu), ditambah lagi berlembar-lembar laporan praktikum yang harus ditulis tangan, ya..ditulis tangan saudara-saudara! yang maksudnya, ditulis dengan menggunakan pulpen yang digerakkan dengan tangan (saya kira kalian cukup pintar untuk memahaminya). Seseorang yang dekat "dihati" saya, telah mengajarkan, semua tugas-tugas itu memang layak mengurangi sedikit-banyak dari waktu tidur saya, dan sebagi seseorang yang sedang sadar untuk mau berubah menjadi lebih baik, tak ada pilihan lain selain melakukannya. Sekali lagi hal itu saya pelajari tanpa perlu diajari.
Dan entah sejak kapan, saya mulai terbangun dengan kalimat "when we wake up in the morning, we always have two simple choices, go back sleep and dreams, or wake up and chase those dreams".
Belum lama ini, saya sedang tertarik untuk membahas atau mencari segala sesuatu yang bisa menjadi pendukung dalam usaha saya membangun motivasi, tapi kali ini saya tidak terlalu tertarik dengan buku-buku pembangkit semangat atau yang semacamnya, laskar pelangi dan beberapa buku lain yang katanya sangat menginspirasi nyatanya cuma jadi sekedar bahan bacaan, kalaupun memang ada efeknya, paling lama bertahan cuma sampai seminggu, itu yang saya alami. Cuma mau coba-coba dengan sesuatu yang lebih realisitis aja, lebih dekat, dan lebih akrab dengan kehidupan sendiri, maka saya mulai dari orang-orang terdekat.
Bukannya saya menganggap buku-buku motivasi itu ga' ada gunanya atau sekedar bohongan, sebenarnya cukup bermanfaat juga kok, minimal bisa jadi media penambah pengetahuan dan hiburan. Jujur, yang saya lihat dari buku semacam itu cuma gambaran bagaimana seseorang yang mau berubah harus berusaha dengan keras, dan pada akhirnyaTuhan memang berpihak pada orang yang mau berusaha, cuma sebatas itu, sebatas tahu "oh..kalau mau menjadi lebih baik kita harus berusaha dengan keras, dan bagaimanapun tidak mungkinnya sebuah cita-cita, kita pasti bisa meraihnya". Kalau saya menganggapnya, buku-buku itu cuma sebagai pengingat, bukan sebagai sumber motivasi,soalnya yang saya tau motivasi lahir dari dalam diri kita sendiri, setelah kita benar-benar sadar untuk bertindak, tapi sekedar sadar juga ga' cukup, kita sadar kalau mau sukses harus giat berusaha, tapi sadar belum berarti kita telah berusaha.
Teman saya bilangnya gini, "itu penulis buku motivasi juga sadar bukan ji karena buku, dia sadar sendiriji, trus na bikin mi buku". Yup, kadang kita memang terlalu naif dengan berpikir kita harus memperbaiki diri kita dengan membaca sebuah bacaan yang menginspirasi, padahal pengalam dan kegagalan dalam hidup kita sudah lebih dari cukup sebagai bahan referensi. Andrea Hirata juga bisa meraih cita-citanya kuliah di Sorbonne bukan karena membaca buku-buku motivasi, tapi karena pengalam hidup dan kesadaran untuk memajukan kaumnya.
Saya pernah baca sebuah artikel, isinya tentang hal-hal apa atau siapa saja yang paling bisa mempengaruhi seseorang, dan hasilnya, orang terdekatlah yang berada di urutan teratas, iklan dan buku ada di urutan kesekian. dan setelah saya pikir-pikir, hal ini ada benarnya juga, dan ternyata tanpa saya sadari saya telah mengalaminya. Dari seorang teman terdekat saya, saya belajar untuk tidak terlalu memikirkan tanggapan orang tentang kita, jadilah seperti apa yang kamu mau, dan kadang seorang lelaki harus punya sedikit sikap memberontak (cool!..), dan satu hal yang bisa saya sarankan pada orang ini, kentutlah pada tempatnya! Dari teman yang lain, saya mendapatkan keberanian, dengan meniru apa yang dilakukannya, untuk menyebarluaskan tulisan-tulisan yang selama ini cuma tersimpan dalam otak saya, minimal melalui jejaring sosial, hal ini bukan saya dapatkan dari dari pelatihan atau seminar-seminar. Dan saya belajar bahwa kita harus mencoba segala kesempatan yang ada, cukup mencoba, hasil akhir itu ditentukan oleh usaha kita, toh kita ga' akan rugi apapun, itu saya pelajari dari teman saya yang lain. Dan layaknya anak sekolahan, yang kewajibannya memang belajar, kadang pelajaran itu tidak dapat saya amalkan sepenuhnya, pengaplikasiannya itu juga masih butuh pembelajaran. Pada segmen ini, saya tidak belajar dari buku, dan pelajaran itu tidak mereka turunkan dengan sengaja dan dengan gaya menggurui, mereka cuma berlaku sesuai apa adanya mereka. Entah bagaimana penjelasannya, tapi yang saya tahu kita cenderung mengikuti orang yang terdekat dengan kita.
Akhir-akhir ini, tugas-tugas kuliah sedang menumpuk (kayaknya memang selalu begitu), ditambah lagi berlembar-lembar laporan praktikum yang harus ditulis tangan, ya..ditulis tangan saudara-saudara! yang maksudnya, ditulis dengan menggunakan pulpen yang digerakkan dengan tangan (saya kira kalian cukup pintar untuk memahaminya). Seseorang yang dekat "dihati" saya, telah mengajarkan, semua tugas-tugas itu memang layak mengurangi sedikit-banyak dari waktu tidur saya, dan sebagi seseorang yang sedang sadar untuk mau berubah menjadi lebih baik, tak ada pilihan lain selain melakukannya. Sekali lagi hal itu saya pelajari tanpa perlu diajari.
Dan entah sejak kapan, saya mulai terbangun dengan kalimat "when we wake up in the morning, we always have two simple choices, go back sleep and dreams, or wake up and chase those dreams".
dedicated to all my friend in Kongsi Orang-Orang Belum Sukses!

0 comments:
Post a Comment