Tim Van Damme Inspired by Tim Vand Damme

Pages

Labels

Followers

I'm curious about..

About me

My photo
insomnia transient dan hypersomnia di waktu lain

Blog

Monday, March 22, 2010

Kenapa Laskar Pelangi Ga' Manjur Buat Saya!

0 comments
Katanya tidak ada yang gratis di dunia, maka untuk setiap apa yang kita inginkan butuh sebuah harga. saya cuma tidak mau mendapatkan sesuatu yang biasa-biasa saja atau malah cetek, dengan sebuah harga yang mahal, termasuk prestasi dangkal dengan harga bertahun-tahun sekolah.


Belum lama ini, saya sedang tertarik untuk membahas atau mencari segala sesuatu yang bisa menjadi pendukung dalam usaha saya membangun motivasi, tapi kali ini saya tidak terlalu tertarik dengan buku-buku pembangkit semangat atau yang semacamnya, laskar pelangi dan beberapa buku lain yang katanya sangat menginspirasi nyatanya cuma jadi sekedar bahan bacaan, kalaupun memang ada efeknya, paling lama bertahan cuma sampai seminggu, itu yang saya alami. Cuma mau coba-coba dengan sesuatu yang lebih realisitis aja, lebih dekat, dan lebih akrab dengan kehidupan sendiri, maka saya mulai dari orang-orang terdekat.


Bukannya saya menganggap buku-buku motivasi itu ga' ada gunanya atau sekedar bohongan, sebenarnya cukup bermanfaat juga kok, minimal bisa jadi media penambah pengetahuan dan hiburan. Jujur, yang saya lihat dari buku semacam itu cuma gambaran bagaimana seseorang yang mau berubah harus berusaha dengan keras, dan pada akhirnyaTuhan memang berpihak pada orang yang mau berusaha, cuma sebatas itu, sebatas tahu "oh..kalau mau menjadi lebih baik kita harus berusaha dengan keras, dan bagaimanapun tidak mungkinnya sebuah cita-cita, kita pasti bisa meraihnya". Kalau saya menganggapnya, buku-buku itu cuma sebagai pengingat, bukan sebagai sumber motivasi,soalnya yang saya tau motivasi lahir dari dalam diri kita sendiri, setelah kita benar-benar sadar untuk bertindak, tapi sekedar sadar juga ga' cukup, kita sadar kalau mau sukses harus giat berusaha, tapi sadar belum berarti kita telah berusaha.


Teman saya bilangnya gini, "itu penulis buku motivasi juga sadar bukan ji karena buku, dia sadar sendiriji, trus na bikin mi buku". Yup, kadang kita memang terlalu naif dengan berpikir kita harus memperbaiki diri kita dengan membaca sebuah bacaan yang menginspirasi, padahal pengalam dan kegagalan dalam hidup kita sudah lebih dari cukup sebagai bahan referensi. Andrea Hirata juga bisa meraih cita-citanya kuliah di Sorbonne bukan karena membaca buku-buku motivasi, tapi karena pengalam hidup dan kesadaran untuk memajukan kaumnya.


Saya pernah baca sebuah artikel, isinya tentang hal-hal apa atau siapa saja yang paling bisa mempengaruhi seseorang, dan hasilnya, orang terdekatlah yang berada di urutan teratas, iklan dan buku ada di urutan kesekian. dan setelah saya pikir-pikir, hal ini ada benarnya juga, dan ternyata tanpa saya sadari saya telah mengalaminya. Dari seorang teman terdekat saya, saya belajar untuk tidak terlalu memikirkan tanggapan orang tentang kita, jadilah seperti apa yang kamu mau, dan kadang seorang lelaki harus punya sedikit sikap memberontak (cool!..), dan satu hal yang bisa saya sarankan pada orang ini, kentutlah pada tempatnya! Dari teman yang lain, saya mendapatkan keberanian, dengan meniru apa yang dilakukannya, untuk menyebarluaskan tulisan-tulisan yang selama ini cuma tersimpan dalam otak saya, minimal melalui jejaring sosial, hal ini bukan saya dapatkan dari dari pelatihan atau seminar-seminar. Dan saya belajar bahwa kita harus mencoba segala kesempatan yang ada, cukup mencoba, hasil akhir itu ditentukan oleh usaha kita, toh kita ga' akan rugi apapun, itu saya pelajari dari teman saya yang lain. Dan layaknya anak sekolahan, yang kewajibannya memang belajar, kadang pelajaran itu tidak dapat saya amalkan sepenuhnya, pengaplikasiannya itu juga masih butuh pembelajaran. Pada segmen ini, saya tidak belajar dari buku, dan pelajaran itu tidak mereka turunkan dengan sengaja dan dengan gaya menggurui, mereka cuma berlaku sesuai apa adanya mereka. Entah bagaimana penjelasannya, tapi yang saya tahu kita cenderung mengikuti orang yang terdekat dengan kita.


Akhir-akhir ini, tugas-tugas kuliah sedang menumpuk (kayaknya memang selalu begitu), ditambah lagi berlembar-lembar laporan praktikum yang harus ditulis tangan, ya..ditulis tangan saudara-saudara! yang maksudnya, ditulis dengan menggunakan pulpen yang digerakkan dengan tangan (saya kira kalian cukup pintar untuk memahaminya). Seseorang yang dekat "dihati" saya, telah mengajarkan, semua tugas-tugas itu memang layak mengurangi sedikit-banyak dari waktu tidur saya, dan sebagi seseorang yang sedang sadar untuk mau berubah menjadi lebih baik, tak ada pilihan lain selain melakukannya. Sekali lagi hal itu saya pelajari tanpa perlu diajari.


Dan entah sejak kapan, saya mulai terbangun dengan kalimat "when we wake up in the morning, we always have two simple choices, go back sleep and dreams, or wake up and chase those dreams".


dedicated to all my friend in Kongsi Orang-Orang Belum Sukses!
Read more

Tuesday, March 16, 2010

What Would You Think About "hehe" Reply From Your Girlfriend

0 comments
Orang-orang bisa ngartiin cinta apa aja, "Love, like a river, will cut a new path
whenever it meets an obstacle" (Crystal Middlemas), "cinta bukan karena, tetapi walaupun", "dari dulu beginilah cinta deritanya tiada akhir" (ti pat kai), menurut orang Makassar cinta itu singkatan dari Cindolo' na Tape (cendol dan radio tape). sementara teman saya merasa, cinta adalah ketika ia menerima sms balasan berisi kata-kata yang panjang dan bukan sekedar jawaban "hehe.." atau ":-)" , do he really think like that? itu pasti dengan alasan yang masuk akal.

belakangan seorang teman saya sering curhat, gimana dia merasa pacarnya ga' sayang lagi sama dia, pasalnya gini, setiap sms-sms yang dia kirim buat pacarnya dengan niat mau ngobrol atau sekedar basa-basi, seringnya cuma dibalas dengan jawaban "hehe..", lha? seolah-olah pacar teman saya itu ga' ada niat buat nerima sms lanjutan, dan malas buat diajak ngobrol. bayangin aja, misalnya kita lagi pengen ngobrol, sudah pontang-panting mikir tema pembicaraan, tapi balasan yang diterima cuman efek suara cengengesan, nah, kita mau balas apa lagi coba? otomatis kita bakal nyari topik lain lagi, tapi masalahnya topik yang baru itu cuma dibalas lagi pake gambar muka senyum atau semacamnya, gimana ga' di skak mat kita. kalo sekali dua kali tiga kali sih wajar, mood orang kan bisa berubah-ubah, tapi kalau frekuensinya sudah terbilang sering, kalau bukan jempolnya menderita stroke sehingga susah buat gerak, kemungkinan pacar teman saya itu menderita sindrom bad mood berkepanjangan.

efeknya lebih terasa manakala (wah, bisa jadi jurnalis nih saya) pada momen-momen awal pacaran mereka, teman saya sering disuguhi sms-sms manja dan kata-kata selangit dua langit dari pacarnya itu. tebak aja, kalo awalnya mesra dan semakin kesini semakin hampa bin singkat, itu artinya apa hayo? salah satu kemungkinan terburuk yaitu bosan. ditambah lagi, distatus facebooknya, dia sudah ga' pernah nulis status tentang perasaannya kepada teman saya, entah itu kangen, sedih, atau marah, padahal dulu tulis "miss you" pake keterangan 1000x.

kalo menurut saya sih, itu memang resiko dari kata-kata yang terlalu manis dan keseringan yang kita berikan sama seseorang yang kita sayangi, ketika suatu saat, kata-kata yang kita terima sudah ga' semanis yang dulu lagi, maka yang kita pikir hanyalah bahwa doski udah bosan sama kita. bukannya ga' setuju sih, tiap orang punya cara masing-masing, tapi setidaknya kita bisa konsisten, supaya pacar kita ga' merasa ada perubahan dalam diri kita, apalagi yang mengarah indikasi bosan. dan kalo memang kita merasa tidak yakin bisa selalu bermulut manis tiap saat, mending biasa-biasa aja, kan ada kalanya kita makan sambel, baru bangun tidur, dimana kondisi ini membuat mulut kita betul-betul tidak manis.

saya akui, saya jarang mengirimkan kata-kata indah yang enak dipake sebagai pengantar tidur pada pacar saya, maksimal "met bobo, and have a nice dream", tapi untungnya dia ngerti dan ga' pernah protes ketika suatu malam dia akhirnya ga' nerima sms selamat tidur itu, karena memang sudah biasa begitu. kalo lagi sms-an juga seringnya saya cuma balas dengan jawaban-jawaban bodoh dan candaan, kata "sayang" juga ga' setiap saat muncul dalam pesan saya itu, dan baiknya, pacar saya ga' pernah rewel dengan hal itu, sekali lagi karena biasanya memang begitu. memang dalam banyak kesempatan saya cuma mengirimkan kalimat-kalimat biasa buat dia, tapi itu bukan berarti saya ga' sayang, dan saya percaya dia percaya sama saya, hal ini saya lakukan supaya kami bisa lebih akrab dengan pendekatan pertemanan, lebih luwes, dan ga' jaim dalam hubungan yang namanya pacaran. alasannya juga karena, jika suatu saat saya ingin mengungkapkan rasa sayang saya melalui kata-kata indah, maka kata-kata itu akan menjadi lebih terasa bedanya dan eseninya, ketimbang udah menjadi konsumsi sehari-hari, dan jika kata-kata saya akhirnya jadi biasa lagi, setidaknya dia ga' bakalan berpikir ada perubahan dalam diri saya, tapi memang biasanya begitu. kalo istilah saya, menjaga tempo aja, membangun tensi perlahan, biar klimaksnya lebih wah! dan ga' ngebosenin.

intinya kita memang ga' boleh menyimpulkan perasaan seseorang cuma melalui isi pesan sms-nya, tapi setidaknya perubahan-perubahan itu kita bisa liat dari situ, yah..belajar konsisten aja!
Read more

Freedomwords Design by Insight © 2009