Pernah baca atau dengar ga' soal tikus dalam labirin?...Jadi, untuk sebuah tujuan percobaan, seekor tikus, entah itu tikus putih, hamster, tikut got, atau tikus kantor, di masukan ke dalam sebuah labirin trus dibiarin nyari jalan keluar sendiri. Nah, hebatnya, ternyata si tikus bisa mencapai jalan keluar tanpa harus terjebak berulang-ulang di jalan buntu yang sama (mungkin manusia aja yg menganggap hebat, bagi tikus sih, ini hal kecil). Kesimpulannya men, ternyata tikus bisa belajar untuk tidak terjebak pada kesalahan yang sama.
Siang ini saya lagi asoy aja, ga' da kuliah jadi seharian di rumah. Mau ngapain aja malas, bahkan nonton dan main game juga malas. Pake taktik mandi biar lebih semangat dan segar juga nihil hasilnya. Ujung-ujungnya saya terperangkap dalam kondisi yang saya sebut labirin kemalasan. Padahal saya ngutang sama diri saya sendiri buat mempelajari bahan presentasi patofisiologi, jangankan hal-hal rumit macam gitu, bacaan ringan yang menumpuk aja malas buat saya jamah. Yah..memang enak berbuat kesalahan, apalagi yang namanya buang-buang waktu.
Dan, Ternyata menjaga konsistensi semangat ga' semudah yang dibayangkan. Kalo boleh beralasan sih, saya cuma mau berteori bahwa ini soal grafik frekuensi perkuliahan yang awalnya intens secara signifikan jadi longgar (apamintu?), maksud saya gini, di awal-awal kuliah semester ini kami sangat sibuk dengan lab. dan laporan, otomatis semangat juga harus jor-joran biar ga' ketinggalan. Tapi setelah masa-masa yang rush itu akhirnya lewat, maka, seperti yang saya bilang di catatan sebelumnya, waktu membuat semua tempat jadi kasur yang empuk buat nyantai. Yah, saya sadar sih, ga' ada gunanya nyari-nyari alasan, selain bahwa faktanya semua masalah ada pada diri saya sendiri. Satu hal yang membuat saya ga' pernah protes dengan nilai-nilai mata kuliah saya adalah karena saya merasa nilai segitu memang pantas buat saya, atau mungkin lebih malah. Dan saya sering merasa kasihan sama teman-teman yang mendapat nilai jauh di bawah dari apa yang seharusnya mereka dapatkan, makanya, saya ga' pernah protes! Kalau ga' mau munafik, malu juga mendapat penghargaan yang standarnya jauh lebih tinggi dari kemampuan kita sebenarnya. Tri Wibowo B. S., seorang penulis dan penerjemah, yang nyatanya seoran lulusan FE UII Yogyakarta, merasa malu mencantumkan gelar S.E di belakang namanya, soalnya waktu kuliah dulu suka nyontek. Tapi saya rasa cuma sedikit orang seperti beliau.
Well, ternyata saya tahu betul apa-apa saja hasil akhir dari setiap kesalahan yang sering saya lakukan, cuma masalahnya, bukan cuma bagi saya mungkin, tapi banyak di antara kita, bagaimana belajar untuk tidak mengulangi kesalahan. Banyak orang pandai menjelaskan kalau berbuat buruk "begini" nanti hasilnya keburukan "begitu", tapi masalahnya kebanyakan orang cukup pintar untuk mengetahui akibat perbuatan mereka sendiri tanpa perlu diberitahu.
Yah, untuk kali ini, gapapalah saya berharap bisa seperti tikus, setidaknya, mahluk ini bisa belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama!
Abis nulis, pengen menghayal lagi!
Read more
Siang ini saya lagi asoy aja, ga' da kuliah jadi seharian di rumah. Mau ngapain aja malas, bahkan nonton dan main game juga malas. Pake taktik mandi biar lebih semangat dan segar juga nihil hasilnya. Ujung-ujungnya saya terperangkap dalam kondisi yang saya sebut labirin kemalasan. Padahal saya ngutang sama diri saya sendiri buat mempelajari bahan presentasi patofisiologi, jangankan hal-hal rumit macam gitu, bacaan ringan yang menumpuk aja malas buat saya jamah. Yah..memang enak berbuat kesalahan, apalagi yang namanya buang-buang waktu.
Dan, Ternyata menjaga konsistensi semangat ga' semudah yang dibayangkan. Kalo boleh beralasan sih, saya cuma mau berteori bahwa ini soal grafik frekuensi perkuliahan yang awalnya intens secara signifikan jadi longgar (apamintu?), maksud saya gini, di awal-awal kuliah semester ini kami sangat sibuk dengan lab. dan laporan, otomatis semangat juga harus jor-joran biar ga' ketinggalan. Tapi setelah masa-masa yang rush itu akhirnya lewat, maka, seperti yang saya bilang di catatan sebelumnya, waktu membuat semua tempat jadi kasur yang empuk buat nyantai. Yah, saya sadar sih, ga' ada gunanya nyari-nyari alasan, selain bahwa faktanya semua masalah ada pada diri saya sendiri. Satu hal yang membuat saya ga' pernah protes dengan nilai-nilai mata kuliah saya adalah karena saya merasa nilai segitu memang pantas buat saya, atau mungkin lebih malah. Dan saya sering merasa kasihan sama teman-teman yang mendapat nilai jauh di bawah dari apa yang seharusnya mereka dapatkan, makanya, saya ga' pernah protes! Kalau ga' mau munafik, malu juga mendapat penghargaan yang standarnya jauh lebih tinggi dari kemampuan kita sebenarnya. Tri Wibowo B. S., seorang penulis dan penerjemah, yang nyatanya seoran lulusan FE UII Yogyakarta, merasa malu mencantumkan gelar S.E di belakang namanya, soalnya waktu kuliah dulu suka nyontek. Tapi saya rasa cuma sedikit orang seperti beliau.
Well, ternyata saya tahu betul apa-apa saja hasil akhir dari setiap kesalahan yang sering saya lakukan, cuma masalahnya, bukan cuma bagi saya mungkin, tapi banyak di antara kita, bagaimana belajar untuk tidak mengulangi kesalahan. Banyak orang pandai menjelaskan kalau berbuat buruk "begini" nanti hasilnya keburukan "begitu", tapi masalahnya kebanyakan orang cukup pintar untuk mengetahui akibat perbuatan mereka sendiri tanpa perlu diberitahu.
Yah, untuk kali ini, gapapalah saya berharap bisa seperti tikus, setidaknya, mahluk ini bisa belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama!
Abis nulis, pengen menghayal lagi!
