Alay, siapa ga’ kenal Alay? Alay adalah mantan vokalis band Peterpan yang terlibat kasus video porno. Oh..maaf! Itu Ariel. Jauh banget ya nyambungnya!? Namanya juga plesetan, kan, jatuhnya bisa jauh, apalagi kalo keplesetnya sambil pake sepatu roda.
Saya yakin, teman2 semua pasti sudah familiar dengan istilah Alay, atau mungkin, sudah familiar sama beberapa orang yang telah mendapatkan predikat Alay ini. Ya memang, akhir-akhir ini istilah Alay semakin muncul ke permukaan bumi, sampai-sampai orang jadi lupa dengan kasus Century, itu lho..Century toko obat. Oh maaf salah lagi, Bank Century maksudnya. Saya jadi curiga, jangan-jangan fenomena Alay ini adalah salah satu pengalihan isu terhadap kasus bank Century yang sengaja dirangcang oleh pihak tertentu agar kasus tersebut tetap terbengkalai (analisis yang tajam dari seorang pemuda!).
Penasaran dengan fenomena Alay ini, dan berangkat dari kecurigaan saya di atas, maka darah intelektual saya tertantang untuk mencari tahu lebih jauh tentang Alay ini, dan saya yakin, banyak diantara teman2 yang juga merasakan hal demikian. Lalu, saya iseng2 browsing di internet, dan menemukan begitu banyak tulisan2 tentang Alay di blog2 dan utamanya di Kaskus. Dari tulisan yang banyak tersebut, saya menemukan beberapa hal yang bisa saya jadikan kesimpulan dan beberapa kesamaan dari beberapa tulisan tersebut.
Alay, katanya adalah singkatan dari Anak Layangan, yang awalnya saya pikir Layangan ini adalah nama sebuah tempat dimana anak2 mudanya berada pada kondisi pergaulan yang norak abis menurut orang yg tidak norak, dimana orang yg tidak norak ini menganggap diri mereka tidak norak berdasarkan penilaian mereka terhadap diri mereka sendiri, sampai2 setiap hal kampungan dan norak disebut Alay. Ternyata eh ternyata, Anak Layangan yang dimaksud adalah anak-anak yang suka main layangan di panasan, sampe berjam2, sehingga kulit mereka hitam, rambut merah terbakar, dan nampak sangat tidak memiliki nilai estetika (keindahan), apalagi kalau abis ngejar layangan putus. Mengetahui hal ini, kenangan masa kecil saya terusik, pasalnya, waktu masih bocah saya juga sering main layangan sama teman2, jadi, apakah saya ini Anak Layangan? Dan bukan anak bapak mamak saya? Saya bingung! Secara pribadi, saya kurang setuju hal2 kampungan dan norak tersebut disebut Alay, karena dulu sewaktu masih jadi anak layangan, diantara teman2, saya ini dikenal paling gaul dan keren (atau mungkin itu diantara para Alay saja?). Dan saya pikir, bukan cuma anak2 kok yg suka main layangan, bapak2 juga ada, jadi saya rasa, harus ada juga istilah “Balay”, Bapak Layangan. Sebagai generasi muda, hendaknya kita jangan jatuh ke dalam sebuah fallacy, seperti overgeneralism, yang menganggap semua anak layangan itu kampungan, karena tidak semua anak yang suka main layangan itu kampungan, contohnya saya. Jadi saya harap, para dedengkot pergaulan anak muda, atau pencipta trademark2 istilah anak muda, bisa menemukan istilah yang lebih tepat, semisal “Bohay”, Bocah Layangan (geblek, sama aja! Tapi setidaknya, itu terdengar lebih seksi, bo'!).
Oh iya, dari sekian banyak tulisan tentang Alay itu, rata-rata mengambil nada dasar yang sama dalam esensi tulisannya, yaitu kebencian terhadap kaum Alay dan memaki-maki mereka. Ooh..how come? Ya gitu deh, kaum non-Alay yang rata-rata berasal dari kalangan anak muda gaul, menganggap Alay itu seperti virus penyakit yang lebih rendah dari virus kusta, dan tidak lebih keren dari virus HIV. Orang yang kena HIV aja masih lebih dianggap spesial dan sering ada konser2 musik buat mereka, ada hari besarnya pula. Kaum Alay, mana ada? Jadi, secara tidak langsung, masih lebih keren kena HIV daripada dapat predikat Alay.
Seperti sudah saya kemukakan di atas, predikat Alay adalah sebuah julukan yang diberikan kepada orang atau hal2 yang berbau kampungan atau norak atau dsb atau dst. Golongan Alay ini, ga’ mesti orang2 yang berasal dari kampung atau daerah pegunungan atau daerah pedalaman. Karena jika mengutip kalimat dari baju Joger teman saya, “sesuatu yang berbau kambing belum tentu harus kambing”. Kemudian, agar seseorang bisa dikatakan Alay, minimal do’i harus memenuhi salah satu dari kriteria berikut ini:
Yang pertama, kalau nulis SMS atau pesan2 di jejaring sosial atau media komunikasi elektronik lainnya, hurufnya suka aneh2, kadang besar kecil-besar kecil, kadang campur aduk antara huruf-angka-tanda baca, dan ada yang suka merusak tatanan baku dari kata-kata yang sudah ada, misalnya dengan menambah huruf yg ga’ perlu atau mengganti konsonan. Untuk tulisan2 macam ini, contohnya banyak di jejaring sosial. Dan disini, saya mencoba untuk mulai beropini. Untuk Alay tipe ini, saya menyebutnya “Alay Karena Mutlak Pilihan”. Maksudnya gini, mereka bisa saja memilih untuk tidak menggunakan tulisan-tulisan aneh macam itu, namun pada kenyataannya, mereka malah lebih memilih untuk jadi Alay. Padahal sebenarnya mereka bisa lebih mudah dalam mengetik, dan memudahkan orang2 yang membaca tulisannya. Atau saya curiga, keybord atau keypad yang mereka gunakan formatnya sudah dirancang untuk menghasilkan tulisan yang Alay!? Konon sejarahnya, tulisan alay ini sebenarnya dulu adalah bahasa kode yang digunakan untuk berkomunikasi diantara agen rahasia CIA. Tapi suatu ketika, salah seorang agen teledor dengan tidak sengaja mengirimi pacarnya SMS dengan menggunakan bahasa kode ini, sang pacar agen pun tertarik dengan model tulisan baru ini, do'i kemudian mulai mengirimi semua temannya dengan SMS menggunakan bahasa kode ini, dan dari situlah, awal mula munculnya tulisan Alay. Dan sumpah, ini saya ngarang abis! Nah, buat Alay tipe ini, saya juga kurang bersimpati sama mereka, alasannya, mereka seperti merampas hak kita untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas dan transparan, serta merampas waktu kita yang berharga hanya untuk berlama-lama menerjemahkan satu kata yang mereka tulis. Tapi saya kemudian berpikir, bego juga kita membuang2 waktu membaca tulisan mereka, kalau toh sebenarnya yang mereka tulis bukanlah pengumuman penting seperti ramalan siapa juara Piala Dunia 2014 mendatang atau kapan jatuhnya bulan Ramadhan. Jadi mending cuekin aja. Kecuali mereka mengirim SMS darurat seperti “AWAS!! Dibelakang kamu ada Michael Myers mau gorok leher kamu!!” dengan bahasa Alay yang sulit dimengerti, itu..baru kamu boleh protes, dengan catatan, kamu bisa menerjemahkan pesan tersebut sebelum Michael Myers nangkap kamu. Jadi, karena kita ga’ mungkin memaksa orang lain untuk menjadi apa yang kta mau, solusi sederhana yang bisa saya berikan hanyalah, mari kita bersama-sama berdoa agar teman-teman kita yang Alay ini, cepat sadar.
Yang kedua adalah, kalau masang nama di facebook terlampau menyimpang dari nama asli mereka, dan kadang ditambah dengan embel2 “luph, c’lalu ddenganmuwh, maniezt, caianknyah anu, caianknyah ini” dund laaen-laaen. Sampai2, kadang kita tidak tahu kalau mereka sebenarnya adalah teman kita dikelas, misalnya. Yang ini juga adalah Alay Karena Mutlak Pilihan, dan saya juga kurang bersimpati. Solusinya sama, mendoakan.
Kemudian, ada Alay karena berpenampilan norak atau katanya pake pakaian distro yang abal2. Ada juga karena tongkrongannya kurang eksekutif dan selera musik yang kurang tinggi kelasnya. Untuk Alay tipe ini, pada umunya adalah, saya menyebutnya “Alay Karena Pengaruh Keadaan”. Mungkin mereka sebenarnya ingin punya taraf pergaulan yang lebih bonafid, namun ada beberapa kondisi yang menyebabkan mereka harus puas dengan ke-Alay-an mereka. Untuk Alay karena stelan pakaiannya misalnya, ada tulisan di Kaskus yang memberi contoh, Alay tipe ini sukanya pake baju yang ada tulisan-tulisan uniknya, misalnya “panitia hari kiamat”, atau pakenya baju distro yang abal2. Saya pikir, mungkin mereka sebenarnya pengen pake baju yang ada tulisan Christian Dior-nya, Giorgio Armani-nya, Calvin Klein-nya, atau baju branded lainnya, Cuma, ekonomi mereka ga’ mampu, karena pada umumnya, penghuni kelas Alay tipe ini, berasal dari kalangan yang kurang beruntung dengan kondisi ekonomi. Juga, untuk selera musik, karena berada pada konidisi yang mengharuskan mereka untuk selalu puas dengan apa yang nereka miliki, maka pilihan musik mereka juga ga’ perlu neko2, ga’ perlu macam2, ga’ perlu kudu nyari referensi dulu di majalah Rolling Stones, cukup yang ada di acara Inbox, Dahsyat, Mantap atau sejenisnya aja. Jadi, saya rasa kurang adil sebenarnya jika mereka dihakimi kejelekannya karena sesuatu yang tidak mampu mereka miliki, seperti dukungan finansial dari orang tua, pendidikan yang mahal, dan akses yang lebih luas. Solusi buat orang2 yang membenci Alay tipe ini adalah, mari mendoakan mereka agar mereka cepat jadi lebih kaya.
Pada akhirnya, saya cuma mau bilang, masalah kecil tentang Alay ini sebenarnya sama saja dengan masalah kecil lain yang mengharuskan kita semua punya perbedaan, entah itu perbedaan pandangan hidup, ras, strata sosial, kelompok, dan perbedaan2 lainnya, yang mestinya disikapi dengan bijak, tidak asal main tuduh-menuduh dan saling mengeleminasi keberadaan. Saya cuma berharap, kita sebagai generasi muda Indonesia, bisa saling menghargai dan tidak terlalu cepat dalam meghukumi benar-salahnya sesuatu, jangan kayak Front2 itulah, yang suka main grasak-grusuk dan mencekal seenaknya. Alay ini, cuma contoh kecil dari sekian banyak hal yang bisa membuat kita saling tidak bersimpati.
Sebagai tambahan, informan saya memperoleh kabar, bahwa isu Alay ini bisa jadi salah satu alat yang disusupkan pihak asing yang ingin menghancurkan Bangsa Indonesia dari dalam. Ya, kawan-kawan, Alay adalah, Isu kebangsaan terbesar bangsa kita saat ini!
Oke, segitu aja, soalnya saya sudah Alay, eh..salah lagi deng, capek maksudnya (jauh abis!).
Read more
Saya yakin, teman2 semua pasti sudah familiar dengan istilah Alay, atau mungkin, sudah familiar sama beberapa orang yang telah mendapatkan predikat Alay ini. Ya memang, akhir-akhir ini istilah Alay semakin muncul ke permukaan bumi, sampai-sampai orang jadi lupa dengan kasus Century, itu lho..Century toko obat. Oh maaf salah lagi, Bank Century maksudnya. Saya jadi curiga, jangan-jangan fenomena Alay ini adalah salah satu pengalihan isu terhadap kasus bank Century yang sengaja dirangcang oleh pihak tertentu agar kasus tersebut tetap terbengkalai (analisis yang tajam dari seorang pemuda!).
Penasaran dengan fenomena Alay ini, dan berangkat dari kecurigaan saya di atas, maka darah intelektual saya tertantang untuk mencari tahu lebih jauh tentang Alay ini, dan saya yakin, banyak diantara teman2 yang juga merasakan hal demikian. Lalu, saya iseng2 browsing di internet, dan menemukan begitu banyak tulisan2 tentang Alay di blog2 dan utamanya di Kaskus. Dari tulisan yang banyak tersebut, saya menemukan beberapa hal yang bisa saya jadikan kesimpulan dan beberapa kesamaan dari beberapa tulisan tersebut.
Alay, katanya adalah singkatan dari Anak Layangan, yang awalnya saya pikir Layangan ini adalah nama sebuah tempat dimana anak2 mudanya berada pada kondisi pergaulan yang norak abis menurut orang yg tidak norak, dimana orang yg tidak norak ini menganggap diri mereka tidak norak berdasarkan penilaian mereka terhadap diri mereka sendiri, sampai2 setiap hal kampungan dan norak disebut Alay. Ternyata eh ternyata, Anak Layangan yang dimaksud adalah anak-anak yang suka main layangan di panasan, sampe berjam2, sehingga kulit mereka hitam, rambut merah terbakar, dan nampak sangat tidak memiliki nilai estetika (keindahan), apalagi kalau abis ngejar layangan putus. Mengetahui hal ini, kenangan masa kecil saya terusik, pasalnya, waktu masih bocah saya juga sering main layangan sama teman2, jadi, apakah saya ini Anak Layangan? Dan bukan anak bapak mamak saya? Saya bingung! Secara pribadi, saya kurang setuju hal2 kampungan dan norak tersebut disebut Alay, karena dulu sewaktu masih jadi anak layangan, diantara teman2, saya ini dikenal paling gaul dan keren (atau mungkin itu diantara para Alay saja?). Dan saya pikir, bukan cuma anak2 kok yg suka main layangan, bapak2 juga ada, jadi saya rasa, harus ada juga istilah “Balay”, Bapak Layangan. Sebagai generasi muda, hendaknya kita jangan jatuh ke dalam sebuah fallacy, seperti overgeneralism, yang menganggap semua anak layangan itu kampungan, karena tidak semua anak yang suka main layangan itu kampungan, contohnya saya. Jadi saya harap, para dedengkot pergaulan anak muda, atau pencipta trademark2 istilah anak muda, bisa menemukan istilah yang lebih tepat, semisal “Bohay”, Bocah Layangan (geblek, sama aja! Tapi setidaknya, itu terdengar lebih seksi, bo'!).
Oh iya, dari sekian banyak tulisan tentang Alay itu, rata-rata mengambil nada dasar yang sama dalam esensi tulisannya, yaitu kebencian terhadap kaum Alay dan memaki-maki mereka. Ooh..how come? Ya gitu deh, kaum non-Alay yang rata-rata berasal dari kalangan anak muda gaul, menganggap Alay itu seperti virus penyakit yang lebih rendah dari virus kusta, dan tidak lebih keren dari virus HIV. Orang yang kena HIV aja masih lebih dianggap spesial dan sering ada konser2 musik buat mereka, ada hari besarnya pula. Kaum Alay, mana ada? Jadi, secara tidak langsung, masih lebih keren kena HIV daripada dapat predikat Alay.
Seperti sudah saya kemukakan di atas, predikat Alay adalah sebuah julukan yang diberikan kepada orang atau hal2 yang berbau kampungan atau norak atau dsb atau dst. Golongan Alay ini, ga’ mesti orang2 yang berasal dari kampung atau daerah pegunungan atau daerah pedalaman. Karena jika mengutip kalimat dari baju Joger teman saya, “sesuatu yang berbau kambing belum tentu harus kambing”. Kemudian, agar seseorang bisa dikatakan Alay, minimal do’i harus memenuhi salah satu dari kriteria berikut ini:
Yang pertama, kalau nulis SMS atau pesan2 di jejaring sosial atau media komunikasi elektronik lainnya, hurufnya suka aneh2, kadang besar kecil-besar kecil, kadang campur aduk antara huruf-angka-tanda baca, dan ada yang suka merusak tatanan baku dari kata-kata yang sudah ada, misalnya dengan menambah huruf yg ga’ perlu atau mengganti konsonan. Untuk tulisan2 macam ini, contohnya banyak di jejaring sosial. Dan disini, saya mencoba untuk mulai beropini. Untuk Alay tipe ini, saya menyebutnya “Alay Karena Mutlak Pilihan”. Maksudnya gini, mereka bisa saja memilih untuk tidak menggunakan tulisan-tulisan aneh macam itu, namun pada kenyataannya, mereka malah lebih memilih untuk jadi Alay. Padahal sebenarnya mereka bisa lebih mudah dalam mengetik, dan memudahkan orang2 yang membaca tulisannya. Atau saya curiga, keybord atau keypad yang mereka gunakan formatnya sudah dirancang untuk menghasilkan tulisan yang Alay!? Konon sejarahnya, tulisan alay ini sebenarnya dulu adalah bahasa kode yang digunakan untuk berkomunikasi diantara agen rahasia CIA. Tapi suatu ketika, salah seorang agen teledor dengan tidak sengaja mengirimi pacarnya SMS dengan menggunakan bahasa kode ini, sang pacar agen pun tertarik dengan model tulisan baru ini, do'i kemudian mulai mengirimi semua temannya dengan SMS menggunakan bahasa kode ini, dan dari situlah, awal mula munculnya tulisan Alay. Dan sumpah, ini saya ngarang abis! Nah, buat Alay tipe ini, saya juga kurang bersimpati sama mereka, alasannya, mereka seperti merampas hak kita untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas dan transparan, serta merampas waktu kita yang berharga hanya untuk berlama-lama menerjemahkan satu kata yang mereka tulis. Tapi saya kemudian berpikir, bego juga kita membuang2 waktu membaca tulisan mereka, kalau toh sebenarnya yang mereka tulis bukanlah pengumuman penting seperti ramalan siapa juara Piala Dunia 2014 mendatang atau kapan jatuhnya bulan Ramadhan. Jadi mending cuekin aja. Kecuali mereka mengirim SMS darurat seperti “AWAS!! Dibelakang kamu ada Michael Myers mau gorok leher kamu!!” dengan bahasa Alay yang sulit dimengerti, itu..baru kamu boleh protes, dengan catatan, kamu bisa menerjemahkan pesan tersebut sebelum Michael Myers nangkap kamu. Jadi, karena kita ga’ mungkin memaksa orang lain untuk menjadi apa yang kta mau, solusi sederhana yang bisa saya berikan hanyalah, mari kita bersama-sama berdoa agar teman-teman kita yang Alay ini, cepat sadar.
Yang kedua adalah, kalau masang nama di facebook terlampau menyimpang dari nama asli mereka, dan kadang ditambah dengan embel2 “luph, c’lalu ddenganmuwh, maniezt, caianknyah anu, caianknyah ini” dund laaen-laaen. Sampai2, kadang kita tidak tahu kalau mereka sebenarnya adalah teman kita dikelas, misalnya. Yang ini juga adalah Alay Karena Mutlak Pilihan, dan saya juga kurang bersimpati. Solusinya sama, mendoakan.
Kemudian, ada Alay karena berpenampilan norak atau katanya pake pakaian distro yang abal2. Ada juga karena tongkrongannya kurang eksekutif dan selera musik yang kurang tinggi kelasnya. Untuk Alay tipe ini, pada umunya adalah, saya menyebutnya “Alay Karena Pengaruh Keadaan”. Mungkin mereka sebenarnya ingin punya taraf pergaulan yang lebih bonafid, namun ada beberapa kondisi yang menyebabkan mereka harus puas dengan ke-Alay-an mereka. Untuk Alay karena stelan pakaiannya misalnya, ada tulisan di Kaskus yang memberi contoh, Alay tipe ini sukanya pake baju yang ada tulisan-tulisan uniknya, misalnya “panitia hari kiamat”, atau pakenya baju distro yang abal2. Saya pikir, mungkin mereka sebenarnya pengen pake baju yang ada tulisan Christian Dior-nya, Giorgio Armani-nya, Calvin Klein-nya, atau baju branded lainnya, Cuma, ekonomi mereka ga’ mampu, karena pada umumnya, penghuni kelas Alay tipe ini, berasal dari kalangan yang kurang beruntung dengan kondisi ekonomi. Juga, untuk selera musik, karena berada pada konidisi yang mengharuskan mereka untuk selalu puas dengan apa yang nereka miliki, maka pilihan musik mereka juga ga’ perlu neko2, ga’ perlu macam2, ga’ perlu kudu nyari referensi dulu di majalah Rolling Stones, cukup yang ada di acara Inbox, Dahsyat, Mantap atau sejenisnya aja. Jadi, saya rasa kurang adil sebenarnya jika mereka dihakimi kejelekannya karena sesuatu yang tidak mampu mereka miliki, seperti dukungan finansial dari orang tua, pendidikan yang mahal, dan akses yang lebih luas. Solusi buat orang2 yang membenci Alay tipe ini adalah, mari mendoakan mereka agar mereka cepat jadi lebih kaya.
Pada akhirnya, saya cuma mau bilang, masalah kecil tentang Alay ini sebenarnya sama saja dengan masalah kecil lain yang mengharuskan kita semua punya perbedaan, entah itu perbedaan pandangan hidup, ras, strata sosial, kelompok, dan perbedaan2 lainnya, yang mestinya disikapi dengan bijak, tidak asal main tuduh-menuduh dan saling mengeleminasi keberadaan. Saya cuma berharap, kita sebagai generasi muda Indonesia, bisa saling menghargai dan tidak terlalu cepat dalam meghukumi benar-salahnya sesuatu, jangan kayak Front2 itulah, yang suka main grasak-grusuk dan mencekal seenaknya. Alay ini, cuma contoh kecil dari sekian banyak hal yang bisa membuat kita saling tidak bersimpati.
Sebagai tambahan, informan saya memperoleh kabar, bahwa isu Alay ini bisa jadi salah satu alat yang disusupkan pihak asing yang ingin menghancurkan Bangsa Indonesia dari dalam. Ya, kawan-kawan, Alay adalah, Isu kebangsaan terbesar bangsa kita saat ini!
Oke, segitu aja, soalnya saya sudah Alay, eh..salah lagi deng, capek maksudnya (jauh abis!).
